Manajemen Pasokan bagi Retel

1. Pendahuluan

Penjual eceran/ritel adalah proses/kegiatan penyampaian barang atau jasa dari penjual ke pembeli akhir/konsumen pemakai. Penjual eceran bisa mengambil bentuk bermacam-macam : ada penjual eceran sangat sederhana dengan memmanfaatkan ruang depan atau halaman depan untuk buka warung sederhana yang berfungsi untuk menambah penghasilan atau mengisi kekosongan waktu karena pensiun atau PHK atau dari pada nganggur. Ke dua pedagang eceran yang ada di lokasi resmi seperti pasar, alon-alon. Trotoar(Malioboro),mereka ini biasanya memang pedangan beneran karena pekerjaan itu ditekuni untuk mata pencaharian. Ke tiga pedagang eceran moder yang disebut mini market, bentuk usaha ini sudah merambah sampai di pedesaan dan seringkali menjadi penyebat pasar tradisional atau pedagang tradisional tersaingi dan bahkan ada yang gulung tikar.

Pedagang eceran yang sering disebut sebagai pedagang “sabar menanti” karena mereka baru melayani pembeli kalau ada pembeli yang datang, maka pedagang eceran biasanya memilih lokasi yang berdekatan dengan kerumunan penduduk/orang karena fungsi mereka memotong saluran distribusi. Karena fungsi inilah maka seringkali para pedagang menjual barang dengan harga agak mahal dibandingkan dengan pedagang profesional karena mereka tahu bahwa para pembeli malas memilih pedagang yang menjual barang dengan harga lebih murah karena tempatnya jauh. Karakter pembeli yang ingin memenuhi kebutuhanya dengan cepat dan mudah didapat atau mungkin juga malas inilah yang menjadi sasaran pedagang eceran tersebut.

Mudahnya memasuki bidang usaha bisnis eceran seringkali membuat persaingan yang tidak sehat diantara para pedagang itu sendiri, di suatu daerah/desa misalnya ada empat pedagang eceran yang menjual barang dagangan yang hampir sama dengan pembeli yang relatif sama maka untuk menarik pembeli mereka sering membajak pelanggan warung lain dengan eberi harga yang lebih murah dari tetangganya, dampaknya persaudaraan diantara mereka menjadi kurang harmonis. Persaingan antar pedagang seringkali juga membuat para pedagang eceran berlomba bersaing untuk mendapatkan pemasok barang dengan harga murah melalui pesan barang yang kadalu warso atau hampir kadalu warso.

Pada mulanya ritel adalah bisnis lokal/toko/warung yang melayani kebutuhan sehari-hari masyarakat setempat. Toko/warung tersebut dimiliki oleh perseorangan yang tinggal di daerah dimana orang itu tinggal. Era globalisasi telah membawa perubahan terhadap ritel, ada beberapa sebab antara lain banyaknya pesaing sementara barang yang dijual relatif sama, hal ini mendorong para pedagang untuk membuka usaha di tempat lain. Ke dua tingkat pendidikan yang tinggi mmbuat mereka mengembangkan model ritel disesuaikan kemajuan tehnologi. Ke tiga arus informasi yang dapat menembus batas wilayah suatu negara dan adanya sistem perdagangan bebas membuat perkembangan ritel semakin maju.

Ritel berasal dari bahasa Perancis riteller artinya memotong atau memecah sesuatu, dengan demikian usaha ritel adalah suatu kegiatan bisnis yang berusaha memberikan pelayanan kepada konsumen yang tingkat kebutuhanya kecil-kecil dan sering beraneka ragam barang tetapi kecil-kecil atau sedikit-sedikit. Dalam bahasa Jawa sering kali disebut ngecer (membeli dalam jumlah kecil), artinya beli dalam jumlah sedikit, bahkan di warung-warung rokokpun bisa dibeli eceran/batangan .

2. Disain dan dinamika saluran

Perkembangan jumlah penduduk, pertumbuhan pemukiman dan kenaikan pendapatan masyarakat memicu tumbuhnya  pedagang eceran baru, seirama dengan pertumbuhan pedagang eceran ini maka jumlah, tipe dan jenis pemasokpun bertambah. Ada pemasok yang memfokuskan pada pemindahan barang dari pemasok ke pembeli, ada yang menekankan pada informasi (pembayaran lebih dahulu lewat bank/faktur) baru barang bisa diambil, ada yang menawarkan barang melalui kongsinyasi, barang dititipkan ke pembeli/pengecer dan pembayaranya dilakukan apabila barang sudah laku, ada model penyaluran barang melalui “ngalap nyaur” barang dikirim sedang pembayaranya beberapa hari/minggu kemudian dan lain-lain.

Persaingan yang ketat antar pedagang dapat berdampak positif terhadap para pengecer, misalnya, karena merasa terdesak maka mereka bersatu mendirikan koperasi untuk membeli barang dalam jumlah barang yang banyak untuk mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah. Ada lagi model yang idenya berasal dari grosir, grosir atau pedagang besar ini menyediakan hari tertentu untuk para pengecer yang tergabung dalam keanggotaan di grosir tersebut untuk dapat membeli barang dengan potongan khusus atau harga khusus. Ada pula model pembelian berhadiah, maksudnya apabila ada pengecer yang mampu membeli dalam jumlah tertentu akan mendapatkan hadiah. Pengecer yang prigel akan memanfaatkan peluang itu dengan cara memjual barang dengan harga grosir untuk mendongkrak penjualan, untungnya berupa hadiah yang didapat.

Franchise atau pengecer yang dikontrak grosir, ada beberapa tipe franchise antara lain pertama pengecer yang disponsori produsen, model ini biasanya dipakai oleh para produsen mobil. Ke dua adalah grosir yang disponsori produsen, contohnya cocacola. Sprite dan lain-lain. Ke tiga tipe pengecer-franchise- yang disponsori biro jasa, contoh untuk tipe ke tiga ini  Mc Donald, Kentucky, Hyatt, Hilton dan lain-lain. Disamping tipe tersebut ada juga tipe lain yang dikembangkan oleh para pedagang yang memiliki beberapa kekurangan baik karena kurang modal usaha, kurang tenaga ahli,  kurang berani menanggung resiko, untuk mengatasi kekurangan tersebut mereka menjalin kerjasama untuk menciptakan “sinergi” melalui kopersi atau paguyuban, misal paguyuban PKL Simpang Lima

3. Bauran Komunikasi

Komunikasi merupakan salah satu alat untuk meningkatkan hubungan antara dua orang atau lebih, melalui komunikasi diharapkan hubungan tersebut semakin baik dan akirnya dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Para pemasok dapat meningkatkan penjualanya apabila dia bisa menkomunikasikan barang yang dijual dan akhirnya dapat melayani tepat waktu. Merk merupakan sarana untuk meyakinkan orang lain/pembeli/pengecer bahwa barang yang dijual dijamin akan lebih baik dibandingkan dengan barang yang tidak ber merk, sebab dengan merk konsumen dapat menyampaikan keluahnya atau minta pertanggung jawaban lewat surat pembaca.

Membangun hubungan yang berkesinambungan antara supplier dengan pengecer  selain melalui merk juga bisa melalui asosiasi, ada bermacam-macam bentuk asosiasi (Whidya Utami,2006) antara lain asosiasi terhadap barang dagangan seperti yang dijalankan Makro dengan Q bis untuk barang-barang kebutuhan kantor. Ke dua ada asosiasi terhadap harga dan mutu, contoh Wal-Mark yang memposisikan diri dengan barang yang bermutu dengan harga bersaing. Ke tiga asosiasi terhadap atribut tertentu, contohnya Hypermark yang menawarkan layanan yang sangat pribadi dan memuaskan. Ke empat asosiasi terhadap gaya hidup, contohnya And-1 merupakan ritel yang diasosiasikan sebagai ritel yang bergaya hidup aktif dan energik untuk kawulo muda.

Kerjasama komunikasi antara antara pemasok dengan ritel dalam memasarkan barang akan berdampak positif bagi ke dua belah pihak. Pemasok dapat menjalin kerjasama yang bisa menguntungkan dua belah pihak dengan mengembangkan kampanye yang menunjuk ritel yang dipercaya untuk masing-masing daerah atau melalui pamplet yang disebar atau di tempel diberbagai tempat dengan menunjuk ritel yang ada di daerah tersebut. Beberapa keluhan yang muncul sebagai dampak negatif  dari hubungan yang kurang baik antara pemasok dan ritel adalah : pertama konflik kepentingan antar pemasok dengan ritel yang tak terselasaikan. Ke dua pencantuman nama dan alamat ritel salah atau tidak lengkap sehingga membuat ritel yang tidak tercantum pada  iklan atau pamplet menjadi marah. Ke tiga isi atau makna yang dicantumkan dalam iklan tidak sesuai dengan kenyataan sehingga ritel menjadi sasaran kemarahan konsumen.

4. Manajemen Pemasok

Manajemen Pemasok pada dasarnya adalah suatu usaha yang bertujuan untuk membangun kesetiaan pelanggan (ritel) yang berdampak pada kelangsungan hidup bersama, pemasok berusaha untuk meyakinkan kepada ritel bahwa produk yang dijual adalah produk yang unggul dan murah. Ritel adalah pengusah atau pengecer yang berhubungan langsung dengan konsumen maka bagi ritel asal barang yang ditawarkan bisa diterima dan dibeli ulang. Keberadaan dan masa depan pemasok tidak bisa dilepaskan begitu saja dari peran para ritel dalam menyampaikan barang ke konsumen langsung, ritel sebagai ujung tombak dalam menyampaikan barang ke konsumen langsung harus selalu dikembangkan.

Kepuasan pelanggan adalah tujuan yang ingin dicapai pemasok dengan melibatkan ritel sebagai kepanjangan tangan pemasok untuk menyapaikan barang ke konsumen. Penyusunan perencanaan atau program untuk mendorong agar para ritel bersedia membeli ulang adalah : pertama memberikan potongan harga bagi ritel yang membeli dalam jumlah esar atau tunai. Ke dua memberi hadiah tertentu untuk ritel yang dapat menjual barang dalam jumlah besar pada bulan puasa menjelang hari raya Idul Fitri, ke tiga memberikan pelayanan khusus bagi pelanggan setia dan penyalur terbesar di daerh-daerah tertentu. Ke empat memberikan penghargaan kepada ritel yang telah behasil memberikan pemasukan yang berdampak pada peningkatan penjualan atau kepuasan pelanggan.

Menciptakan basis data para ritel (gudang data ritel) yang terdiri dari : data jumlah ritel, data tentang nilai dan jenis barang yang dibeli para ritel, data tentang kepribadian (identitas, kejujuran dan kenakalan )  dari para ritel, data tentang keluhan para ritel data prestasi para ritel dan lain-lain. Basis data tentang ritel ini sangat berguna untuk membuat perencanaan atau program kerja tahunan. Melalui basis data ini pemasok akan dapat membuat keputusan yang lebih tepat dan berdaya  guna untuk menjalin hubungan yang lebih baik dan berkesinambungan dengan para ritel dan sekaligus melalui basis data ini dapat juga dapat digunaka untuk pengendalian dan pengawasan pada para ritel.

Konsumen adalah sumber profit, suber kehidupan dan masa depan dari suatu perusahaan, maka menjalin komunikasi dengan para konsumen untuk mengetahui sejauh mana ritel memberikan informasi yang benar kepada konsumen tentang produk yang dibelinya merupakan langkah tepat untuk mengawasi dan menyeleksi ritel. Melalui komunikasi secara rutin dan terstruktur dengan para konsumen dan ritel akan dapat membantu pemasok untuk menciptakan pelanggan yang setia  sebab melalui komunikasi yang efektip dengan konsumen dan ritel akan tercipta saling percaya dan saling memahami dan tidak saling menyalahkan. Membangun kepercayaan konsumen atas suatu produk bukan hal yang mudah oleh karena itu mendengar keluhan dari para ritel dan konsumen dan mencoba menindak lanjuti secara cepat, benar dan adanya saling pengertian akan membantu menciptakan kepercayaan diantara ketiganya.

Permintaan barang yang mendadak, perubahan selera konsumen, persaingan yang tidak sehat diantara para ritel/ pemasok dan  pembajakan para ritel potensial selalu mewarnai dunia usaha saat ini. Menghadapi situasi semacam ini para pemaso harus selalu dan selalu mengembangkan model pelayanan dan produk yang dijual agar konsumen tidak bosan. Perusahaan akan hidup apabila selalu melakukan inovasi meski inovasi itu kecil, melalui inovasi akan tercipta sesuatu yang baru baik yang menyangkut pelayanan. Pemasok inovatif adalah pemasok yang selalu btidak puas akan apa yang telah dikerjakan selama ini. Pemasok yang inivatif adalah pemasok yang selalu tampil beda dengan yang lain yang tercermin antara lain harga barang lebih murah, barang lebih cepat sampai di tangan para ritel, barang yang disalurkan selalu barang yang memiliki kelebihan dibandingkan pesaing utama dan pelayananya selalu prima.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s