Membangun Manajemen Pasar Tradisional

1. PENDAHULUAN

Penciptaan customer value (nilai pelanggan) adalah jantung dari keseluruhan kegiatan pemasaran. Kotler (1991) mengemukakan pendapatnya bahwa pemasaran bukanlah seni untuk menemukan cara-cara yang bagus untuk memasarkan produk atau jasa yang dihasilkan namun pemasaran adalah sebuah seni untuk menciptakan nilai di mata pelanggan. Untuk menciptakan nilai tersebut dibutuhkan pemahaman dan pemenuhan atas kebutuhan pelanggan sehingga mewujudkan kepuasan pelanggan (customer satisfaction). Zeithaml and Bitner (2000) menyatakan bahwa kualitas pelayanan memiliki efek langsung kepada keuntungan organisasi, karena adanya hubungan positif dengan perhatian konsumen dan loyalitas konsumen. Pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli dalam melakukan transakai sehari-hari, oleh karena itu diperlukan manajemen pasar yang benar dan profesional agar pasar menjadi tempat belanja dan wisata kuliner yang nyaman bagi semua pihak. Proses pelayanan, tempat jualan, kebersihan lingkungan, keanekaragaman barang dan keamanan akan berdampak pada penilaian bagus atau tidaknya pasar tersebut yang selanjutnya akan berdampak pada citra pasar tradisional di mata masyarakat umum.

Sebuah organisasi pada hakekatnya mempunyai tujuan bisnis yaitu menciptakan dan mempertahankan pelangan yang sudah ada. Dengan semakin berkembangnya dunia bisnis khususnya supermarket dan mini market maka muncul citra pasar tradisional sebagai pasar yang kumuh, fasilitas tak terawat, becek dengan barang dagangan kualitas rendah. Citra pasar tradisional dapat pulih kembali apabila manajemen pasar selalu diperbaiki. Untuk dapat memuaskan semua pihak terutama para pembeli maka seluruh pedagang dan pengelola pasar harus bersama-sama bertanggung jawab untuk menciptakan komunikasi, performance, pelayanan pada pelanggan dan mengurngi atau menghilangkan hal-hal  yang kurang baik.(purwo,madyo)

Dengan terciptanya kepuasan pelanggan akan memberikan beberapa manfaat diantaranya :

  1. Hubungan antara pedagang, pengelola dan para pembeli menjadi harmonis(guyub)
  2. Memberikan kesan positif untuk melakukan pembelian ulang(ngangeni)
  3. Dapat mendorong terciptanya loyalitas pelanggan(pasar tambah grengsenge)
  4. Mendorong suasana rekomendasi dari multu ke mulut (tutur tinular)
  5. Memiliki keunggulan yang  lebih dirasakan di mata pelanggan/pembeli (moncer)
  6. PAD dan Laba para pedagang yang diperoleh dapat meningkat(wasono)

Kepuasan pelanggan itu sendiri sebenarnya tidak mudah didefinisikan namun ada berbagai pengertian yang diberikan oleh para pakar.  Tjiptono (1996) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap evaluasi ketidak sesuaian yang dirasakan antara harapan dan kenyataan yang dirasakan setelah pemakaian. Menurut hasil pengamatan Sugiarto di beberapa pasar tradisional menyatakan bahwa kepuasan pelanggan merupakan suatu tanggapan emosional pada evaluasi terhadap pengalaman pembeli sewaktu membeli barang di pasar dan tanggapan tersebut sulit untuk diubah dalam jangka pendek.

2. VISI, VALUE DAN MISI

a. Visi

Seorang pengusaha ataupun seorang pemimpin organisasi yang baik pasti memiliki impian akan masa depan organisasi atau perusahaan yang dikelolanya. Impian atau cita-cita merupakan kompas atau petunjuk agar arah kita jelas dan tidak tersesat di hutan bisnis yang penuh ketidak pastian. Orang yang tidak pernah mimpi adalah orang mati, seorang penanggung jawab/pengelola pasar yang hanya menjalankan tugas rutin(narik retribusi), duduk-duduk, merokok, makan dan minum-minum sambil nunggu jam kerja selesai terus pulang,  keadaan itu sama halnya dengan orang mati. Jabatan adalah amanah dari Sang Pencipta dan harus kita pertanggung jawabkan nantinya. GUSTI PUNIKO MBOTEN NATE SARE, Tuhan tahu apa yang kita perbuat dan apa yang ada pada pikiran kita. Mulai detik ini mari kita bermimpi tentang pasar yang menjadi tanggung jawab kita serta tempat kita berlindung mencari makan, akan kita kemanakan pasar tradisional ini?

Contoh visi untuk pasar tradisional :

      TEMPAT BELANJA YANG NYAMAN, AMAN DAN TERTIP (NYATE)

Dari contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa visi harus SINGKAT, JELAS, BERMAKNA dan MUDAH DIHAFAL. Kalau perlu visi ini ditempel dimana-mana biar mudah dibaca dan dapat selalu mengingatkan kita semua yang ada di pasar.

b. Value

Value adalah sebagai penuntun arah atau dalam bahasa Inggris disebut Guiding Principles. Value harus mengandung tiga unsur penting yaitu kepercayaan(beliefs), etica(ethics) dan tingkah laku yang diinginkan(code of desireable behavior). Value ini harus berfungsi sebagai penunutun dalam membuat keputusan.

Contoh value untuk pasar tradisional :

                        ENAK UNTUK KONGKO-KONGKO (eko)

Dari pernyataan value tersebut harus dapat kita maknai sebagai suatu tempat yang nyaman, aman (ingat visi) untuk melakukan transaksi, semakin seseorang kerasan tinggal di pasar ada kemungkinan terjadi transaksi lain disamping tujuan semula pergi ke pasar

c. Misi

Misi adalah gambaran perusahaan atau organisasi yang akan datang atau tujuan yang ingin dicapai antara 3 sampai 10 tahun yang akan datang. Misi harus dibuat oleh orang-orang yang tahu betul seluk beluk organisasi atau sejarah berdirinya pasar tersebut serta potensi daerah tersebut beserta kelebihanya. Ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk membuat misi : pertama kembangkan alternatif harapan yang akan diraih di masa yang akan datang, ke dua pilih alternatif yang paling mungkin untuk diraih. Ke tiga bayangkan apa yang menjadi keinginan orang akan pasar tradisional di masa yang akan datang, ke empat pilih kata yang tepat untuk mewujudkan misi tersebut.

Contoh misi pasar tradisional:

                       Bersih rapi dan menawan (berawan)

Dari contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa misi yang baik adalah misi yang bersifat:

–          Singkat , padat dan berisi

–          Sesuai dengan visi dan value yang dianut (dirumuskan di depan)

–          Mudah dipahami oleh semua orang dengan berbagai tingkat pendidikan

–          Mudah diingat dan berkesan

3. MANAJEMEN PASAR TRADISIONAL

Manajemen adalah pembagian tugas yang tidak sama diantara anggota organisasi demi tercapainya tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Tujuan yang ingin dicapai dalam organisasi harus sesuai dengan visi organisasi tersebut yaitu NYATE. Apabila tiap anggota organisasi sudah memahami/mengerti serta siap melaksanakan bersama maka setiap anggota organisasi akan “rumongso melu handarbeni” Pengelolakan pasar tradisional dengan manajemen profesional bisa tercapai dengan cepat apabila semua orang yang terlibat dalam organisasi tersebut (pengelola pasar/dinas terkait, penjual. Pembeli dan masyarakat di sekelilingnya) ikut mendukung. Rumongso melu handarbeni harus selalu ditumbuh kembangkan agar pesan-pesan yang tertuang dalam visi,value dan misi (perencanaan ke depan) bisa dengan mudah dan cepat direalisasikan.

Komunikasi dengan bahasa jawa bagi pasar tradisional di jawa tengah mungkin akan lebih mengena dari pada dengan bahasa Indonesia sebab bahasa jawa adalah bahasa yang paling lengkap di dunia ini sebab dalam bahasa jawa mengenal tingkatan-tingkatannya, misal ada bahasa ngoko, kromo madyo dan kromo inggil dan tingkatan ini menunjukan derajad seorang. Contoh penggunaan bahasa jawa di pasar yang bernuangsakan penghormatan kepada pembeli ; “monggo den pun punduti”,  atau“ monggo ndoromas pinarak mriki rumiyin.  niki pun kedapi” Bagi orang jawa terutama kelompok pembeli golongan ekonomi menengah keatas khususnya OKB atau tiyang sugeh enggalan (tisue) akan merasa bangga dipanggil dengan sebutan DEN atau NDORO. Panggilan ini bisa menjadai daya tarik tersendiri bagi pembeli terutama pembeli tradisional yang suka disanjung-sanjung.

Kelemahan dalam proses pengelolaan pasar tradisional adalah kurang adanya koordinasi dari masing-masing anggota organisasi, tidak memiliki visi, value, misi dan kurang mengenal karakter pasar tradisional yang dikelola, sehingga masing- masing anggota organisasi sering bekerja seenaknya sendiri  kurang tepo seliro lan ngempan papan akibatnya pengelolakanya menjadi tidak karuan atau semrawut, ngolek enake dewe le penting aku oleh duwit akeh( nilai-nilai spiritual agama sudah dilupakan). Atas dasar keadaan tersebut di atas maka peran seorang pemimipin dalam membagi tugas harus transparan dan bisa dipertanggung jawabkan dengan ukuran yang jelas. Kesalahan kita bersama dalam berorganisasi adalah tidak dapat menenentukan tujuan oranisasi yang terukur dengan jelas dan diketahui oleh semua anggota organisasi dan semua orang yang terlibat dalam organisasi tersebut harus mendukung tercapainya tujuan tersebut( kerja adalah bagian dari doa) dan bukan asal bekerja dan tiap bulan menerima gaji(buta).

Apabila setiap orang yang terlibat dalam organisasi sudah tahu tujuan yang ingin dicapai, cara mengukurnya, tanggung jawabnya serta cara-cara mencapainya dan cara-cara mengatasi kalau muncul masalah maka pengawasan tidak diperlukan lagi sehingga tugas seorang pemiimpin tingal mencari keunggulan pasar tradisional yang dikelolanya. Keunggulan bersaing pasar tradisional harus  selalu dikembangkan dan dikemas dengan baik dan dioperasionalkan sehingga masing –masing pasar tradisional memiliki ciri khas yang bisa untuk membedakan dengan pasar tradisional yang lain. Ciri khas inilah yang dapat menjadi daya tarik tersendiri syukur kalau bisa pasar tradisional bisa menjadi DTW (daerah tujuan wisata). Jangan sampai terulang lagi keadaan seperti sekarang ini dimana pasar tradisional dipakai sebagai salah satu sumber PAD, tetapi kurang dipikirkan bagaimana ke depanya, begitu ada pasar swalayan (Mall dan mini market) baru bingung karena pemasukanya berkurang.

Ki Hajar Dewantoro meninggalkan ajaran yang masih sangat relevan sampai saat ini yaitu :”Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso tut wuri handayani” Hal ini mengisyaratkan pada kita bahwa menjadi seorang pimpinan itu juga harus bisa menjadi teladan bagi yang lain:”Ajining diri kuwi ono ing lati, ajining rogo ono busono” Ini adalah nasehat untuk seorang pemimpin apabila dirinya itu ingin dihormati dan dihargai bawahanya, sebab harga diri seseorang terletak pada konsistensi antara ucapan dengan kenyataan. Sebetulnya nasehat-nasehat orang jawa zaman dahulu itu sudah banyak dan  mengisyaratkan adanya manajemen jawa yang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah, hanya sayangnya orang jawa sendiri lupa dan tidak mau mempelajarinya apalagi ngonceki dan kemudian melaksanakanya.

4. Perbedaan Gaya Manajemen Barat, Timur dan Jawa

Merujuk tulisan dari Endang Sulistyo Rini dari Universitas Sumatera Utara yang bersumber dari hasil diskusi tentang konsep manajemen Indonesia, maka didapat rumusan sbb.:

          1. Manajemen Barat :tekanan pada USA dan Eropa barat

Aspek positif : efisien, disiplin tinggi, sadar akan pentingnya menghargai waktu dan  menghargai inisiatif/pendapat                 individu

               Aspek Negatif : Manusia diperlakukan seperti mesin dan masyarakatnya konsumtif

         2. Manajemen Jepang

Aspek positif : solidaritas tinggi, dedikasi tinggi, kesetiaan tinggi, disiplin dirinya tinggi, nasionalisme tinggi dan                      hormat pada senior.

              Aspek negatif : orangnya oportunis, binatang ekonomi, sangat tertutup dan angkuh

        3. Manajemen Cina

Aspek positif : memegang teguh janji, ulet, tekun, hormat solidaritas kelompok tinggi

              Aspek negatif : kikir, menghalalkan segala cara demi tujuan, tertutup dan materialis

        4. Manajemen Jawa (Sugiarto, dari hasil pengamatan dan diskusi/fgd)

Aspek positif : kebersamaan tinggi, tenggang rasa tinggi, hormat pada yang dituakan dan  mau prihatin serta tekun

Aspek negatif : kurang menghargai waktu, disiplin rendah, munafik dan suka grundelan

Dari perbandingan tersebut di atas dapat diketahui aspek positif dan negatifnya sehingga memudahkan kita  dalam memilih model manajemen yang paling sesuai dengan situasi pasar tradisional yang menjadi tanggung jawab kita. Dari uraian tersebut di atas juga dapat disimpulkan bahwa model manajemen yang diterapkan oleh masing-asing negara berbeda dan perbedaan tersebut terjadi karena ada perbedaan budaya, Lingkungan hidup/sumberdaya alam dan iklim bisnis yang diciptakan oleh negara masing-masing. Mengingat peserta pelatihan ini berasal dari pasar tradisional di Jawa tengah maka model manajemenya kita sesuaikan dengan budaya jawa pada umumnya, dengan harapan nanti ke depanya dapat mengelola pasar tradisional yang bernuangsa kearifan local.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s