Wirausahawan yang Tangguh, Sukses dan Etis

1.  Pengantar

Kitab suci agama Samawi menjelaskan bagaimana dunia ini diciptakan oleh Tuhan(Kitab Kejadian 1: 1-29, 2: 1-7). Dunia diciptakan dengan segala kelimpahanya sehingga setiap manusia yang hidup di dunia tidak akan kelaparan karena kekurangan makan. Setiap kali aku melihat ke dinding pada malam atau sore hari selalu kulihat cicak yang merambat di dinding untuk mecari makan (nyamuk), nyamuk adalah binatang yang selalu terbang kesana kemari dan baru istirahat kalau lelah terbang, sementara sang cicak tidak dapat terbang, ia harus sabar,  trampil dan tepat waktu untuk bisa menerkam (nyaplok) nyamuk tersebut. Kalau hal itu kita pikir-pikir kelihatanya aneh tapi nyata : cicak yang tidak bisa terbang makananya nyamuk yang terbang dan suka bersembunyi di kegelapan, lebih heran lagi belum ditemukan cicak mati kelaparan. Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan segala kelebihanya masih ada berita ada orang mati kelaparan. Aneh bukan?

Pada zaman dahulu(purba) kebanyakan orang tidak memikirkan bagaimana memperbaiki kehidupan ini, mereka yakin bahwa kehidupan ini sudah ada yang mengatur yaitu Yang Maha Kuasa (Allah) atau para Dewa. Pada kira-kira abat ke empat SM munculah para filsuf antara lain Aristoteles dengan teori alamnya yang menyatakan bahwa planet dan benda-benda angkasa berputar mengelilingi bumi. Ptolomeus(Zane Pilzer, 2006)  merubah pandangan lama yang menyatakan bahwa bumi dan bukan matahari merupakan pusat tata surya (pandangan yang salah tetapi sempat dipercaya selama 18 abat). Muncul filsuf Copernicus dan Galileo yang menyempurnakan pandangan sebelumnya bahwa semua benda di angkasa mengelilingi bumi.

Prinsip ekonomi lama mengatakan bahwa “ Untuk menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya diperlukan pengurbanan sekecil-kecilnya” Atas dasar prinsip ini banyak  orang mulai bekerja keras untuk dirinya sendiri (hakekat manusia serakah menurut Adam Smith dalam Deliarnov, 2003)dan keluarganya, mereka lupa bahwa kehidupan manusia tidak  bisa lepas dari sumbangan dari orang lain meskipun nilai ekonomisnya kecil, penafsiran prinsip ekonomi lama yang sempit memunculkan “penindasan” atau perbudakan. Definisi ilmu ekonomi yang menekankan pada “kelangkaan sumberdaya alam/scarcity”(Harold dan C.Morse, 1963) telah melahirkan keserakahan demi kepentingan individu atau kelompok yang dilandasi oleh perasaan ketakutan atau kekhawatiran melihat masa depan yang penuh dengan keterbatasan sumberdaya alam.

The Ultimate Resource karya Julian Simon (1981) menjelaskan tentang karunia Allah yang unik yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia bahwa manusia jangan hanya menggunakan sumberdaya alam yang ada tetapi dikaruniai pikiran/akal-budi untuk  menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama makluk hidup di dunia ini. Prinsip Alkimia Ekonomi :”Alam tidak menghasilkan apapun dalam keadaan sudah sempurna, manusialah yang harus menyempurnakan segalanya. Tindakan menjadikan segala sesuatu mencapai kesempurnaan itu disebut alkimia (Deliarnov, 2003, hal 74). Apabila seseorang itu bekerja dilandasi iman bahwa Tuhan Yang Maha Murah tidak akan menciptakan dunia ini dengan keterbatasan dan kelangkaan. Tuhan ingin manusia menjadi kaya melalaui kerja yang benar yang dilandasi iman dan kreaktivitas/inovasi, dan dengan kekayaan itu diharapkan bisa mensejahterakan orang lain.

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kekayaan yang terkandung di alam ini sungguh tak terbatas jumlah dan jenisnya. Manusia telah dianugerahi talenta(kreaktif dan inovatif) untuk menggali sumberdaya yang ada untuk mesejahterakan makluk hidup yang ada di dunia ini.

2. Kewirausahaan

David McCleland (dalam Ciputra,2002, hal 37)mengatakan bahwa suatu negara akan makmur apabila negara tersebut memiliki entrepreneur  sedikitnya 2 persen dari jumlah penduduk, Indonesia diperkirakan baru memiliki entrepreneur kurang lebih 0,18 persen dari jumlah penduduk yang ada(seharusnya punya 4,5 juta entrepreneurs).  Benar seperti apa yang dikatakan oleh Lesther Thurow : “The entrepreneur winners of the game become welthy  and powerful, but without entrepreneurs, economic become poor and weak. The old will not exit, the new  cannot enter”. Menurut  laporan Global Entrepreneurship Monitor tahun 2005 Singapura menjadi negara kaya dan makmur karena jumlah entrepreneurs nya sudah mencapai 7,2 persen dari total penduduk yang ada.

Kewirausahaan itu bakat dari lahir/keturunan, maka tidak dapat diajarkan. Suku Jawa tidak akan dapat menjadi pengusaha karena mentalitas priyayinya. Etnis Tionghoa berbakat tata niaga, maka ada semacam jargon yang mengatakan orang Cina kaya pasti punya toko. Kalau bukan keturunan kasir, tidak akan mampu untuk menjadi kasir, konon sampai dengan tahun 1960-an, yang jadi kasir di Bank Indonsia harus keturunan Tionghoa karena jabatan kasir itu merupakan keturunan. Pengusaha Jawa dan juga pengusaha dari suku Minang tidak akan pernah bisa menjadi pengusaha besar, karena suka royal/pamer.

Jargon-jargon tersebut di atas tadi merupakan sebagian dari mitos-mitos tentang kewirausahaan tempo dulu, sehingga tidak mengherankan kalau suku Jawa(Jawa tengah) banyak tertarik menjadi pegawai negeri dari pada menjadi pengusaha kecuali orang Pekalongan. Pada zaman orde lama dimana perusahaan batik dan tenun mewarnai kehidupan orang Pekalongan, mereka tidak melirik menjadi pegawai negeri karena penghasilanya rendah sedang menjadi pengusaha adalah “prestise”. Banyak teori kewirausahaan dulu  yang menyatakan bahwa jiwa kewirausahaan seseorang melekat pada kelompok etnik tertentu, pada daerah tertentu, dan sebagainya. Mitos-mitos tentang kewirausaan tadi banyak sekali, sama seperti halnya beberapa orang buta memberikan definisi tentang gajah akan mempunyai definisi yang berbeda satu sama lain, demikian pula halnya tentang kewirausahaan. Setiap wirausaha berdasarkan pengalamannya akan mempunyai definisinya sendiri-sendiri tentang kewirausahaan sehingga banyak definisi mengenai kewirauashaan( Sugiarto Ph, 2010).

Ada bermacam-macam definisi-definisi kewirausahaan menunjukan betapa pentingnya makna kewirausahaan tersebut bagi dunia usaha. Dalam prespektif masing-masing, pengertian itu mengandung kebenaran dan tujuan, misalnya saja ada yang mendefinisikan wirausaha sebagai semacam avonturisme. Ini benar dalam arti seorang wirausaha selalu terdorong untuk merambah bidang-bidang usaha baru. Wirausaha juga dikatakan sebagai “kecanduan adrenalin”. Ini benar dalam arti seorang wirausaha seperti orang yang sepertinya tidak mempunyai rasa capai dalam bekerja keras mengejar cita-citanya. Wirausaha juga didefinisikan sebagai seorang yang selalu mencari sesuatu yang mendebarkan (thrill seeking). Ini benar dalam arti bahwa setiap usaha baru tidak pernah membuat orang biasa merasa nyaman dan mapan. Ia belum tahu akan bagaimana hasilnya sehingga usaha tersebut akan mendebar-debarkan hatinya. Inilah justru kenikmatan yang dicari(Sugiarto Ph, 2010).

Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang  dalam menangani usaha dan kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan dan menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih besar (Inpres No 4 tahun 1995). Wirausahawan adalah seorang yang peka terhadap peluang pasar dan mampu memanfaatkan peluang tersebut dengan baik (Meritz, 2005). Menurut Bolton dan Thomson dalam Meritz (2005) wirausahawan adalah seseorang yang terbiasa dengan menciptakan sesuatu dan/ inovatif untuk membangun sebuah nilai dari peluang yang ada. Menurut Lumpkin dan Dess (2005) menyatakan jiwa inovasi  merupakan syarat penting bagi seorang wirausahawan untuk mencapai kesuksesan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam bisnis.Dari pengertian tersebut jelas bahwa arti kewirausahaan bukan hanya seseorang yang mendirikan perusahaan yang dikelola sendiri(wira= sendiri dan usaha=perusahaan).

Ciri seorang wirausaha adalah NATO (not talk only but action)  yang harus selalu menonjolkan pada setiap tindakanya. Wirausaha adalah seorang katalisator. Merekalah orang-orang yang melakukan tindakan sehingga suatu gagasan bisa terwujud menjadi suatu kenyataan. Mereka menggunakan kretivitasnya untuk memikirkan kemungkinan produk atau jasa baru dan menggebu-ngebu untuk mengimplemaentasikannya. Mereka pencipta dan entrepreter atau ATM(Amati Tiru Modivikasi). Seorang pakar kewirausahaan bernama John Kao merumuskan wirausahaan sebagi berikut :“Kewirausahaan adalah suatu upaya menciptakan nilai melalui pengenalan pasar, peluang bisnis, manajemen pengambilan resiko yang sesuai dengan peluang, dan komunikasi yang trampil serta manajemen untuk memobilisasi sumberdaya manusia, keuangan dan material yang diperlukan agar suatu proyek sukses.”

3. Wirausaha Sukses

Motivasi seseorang tertarik  menjadi pengusaha karena dia ingin bebas, mandiri dan menjadi “Bos” bagi dirinya sendiri (Scarborough & Zimmerer, 2000). Kemandirian seseorang dapat diukur melalui bagaimana seseorang itu mampu berdiri sendiri dan tidak terlalu tergantung pada orang lain yang sering disebut sebagai ciri kewiraswastaan (De Carlo dan Lyons, 1979). Banyak penelitian telah dilakukan untuk mengetahui perilaku dan kemampuan seorang wirausaha yang mempengaruhi keberhasilan UKM, tapi penelitian tentang kewirausahaan  masih dilakukan terus menerus untuk mendapatkan jawaban yang meyakinkan sesuai dengan tuntutan zaman  dan skala perusahaan (Boshoff, Bennet dan Owusu, 1992). Disamping  ciri-ciri pribadi seperti: tingkat pendidikan, pengalaman kerja, modal usaha yang disediakan, lingkungan ekonomi, model peran, dan pelayanan (Birley, 1989), peluang usaha juga berpengaruh terhadap kinerja bisnis (Vesper, 1990).), dan juga faktor kemampuan menyusun anggaran, perencanaan dan organisasi juga mempengaruhi pencapaian kinerja bisnis yang lebih baik (Huck dan McEwen, 1991).

Pada umumnya, UKM lebih bersifat fleksibel dan cepat bereaksi terhadap perubahan dibandingkan dengan perusahaan besar. Dua sifat UKM ini membantu UKM  untuk menyusun aset strategik dan menggunakannya di pasar global. Keterlibatan UKM dalam dunia internasional/pasar global dipengaruhi oleh tiga aset strategik, yaitu kapabilitas teknologi yang dimiliki dan dikembangkan UKM untuk bertahan di pasar global/internasional (Oviat dan McDougall, 1994), personal networks yang berguna untuk mendapatkan informasi dari luar negeri (Ellis, 2000) dan pengalaman pemilik/manajer dalam menyusun strategi UKM, di mana pengalaman tersebut merupakan salah satu intangible assets utama dari pada UKM tersebut (Westhead dkk., 2001).

Berdasarkan penelitian Fiegenbaum dan Karnani (1991), serta Karagozoglu dan Lindell (1998), kapabilitas teknologi yang dimiliki UKM tercermin dari peningkatan teknologi yang cepat dan perkembangan ide produk baru. Karena struktur organisasi UKM sederhana dan fleksibel, UKM tampaknya menjadi pengguna awal dari tiap teknologi baru yang muncul (Cohen dan Klepper, 1996; Roper, 1997). Penelitian lain juga membuktikan bahwa UKM  selalu meningkatkan kapabilitas teknologi secara substansial. Autio dkk. (2000) menemukan bahwa UKM mendapatkan reputasi dalam penguasaan teknologi bukan karena hasil meniru tetapi dari hasil rekayasa yang mereka lakukan sendiri sehingga lebih bersifat tepat guna. Dari hasil penelitiannya diketahui bahwa pemilik/manajer selalu mencari cara untuk mengembangkan dan menggunakan teknologi sebagai sebuah aset strategik, walaupun usaha mereka tergolong kecil dan memiliki kurang dari 30 karyawan. Para pemilik dan atau manajer percaya bahwa dengan technology leaders bisnis akan mampu bersaing dalam pasar nasional dan internasional.

Penelitian tentang networks umumnya dibedakan menjadi dua tipe: hubungan interpersonal dan interaksi inter-organisasional. Hubungan interpersonal mengacu kepada jejaring sosial individu (Labianca dkk.,1998), sementara interaksi inter-organisasional antara bisnis dengan mitra bisnisnya dikategorikan sebagai jejaring bisnis (Anderson dkk.,1994). Untuk individu dalam organisasi bisnis, hubungan interpersonal lebih mengarah pada sebuah jejaring, dimana di dalamnya juga terdapat jejaring internal dan eksternal yang mempunyai peranan sama baiknya terhadap bisnis. Karena sifat dasar dari UKM dan peran dari pemilik/manajer maka perbedaan antara jejaring sosial dengan jejaring bisnis seringkali menjadi tidak jelas. Pemilik/manajer selalu terikat dan terlibat dalam segala aspek operasional bisnis sehingga dominasi jejaring lebih pada jejaring bisnis.(Labianca,dkk.1998).

Pemilik/manajer UKM yang mempunyai kemampuan memecahkan masalah biasanya mempunyai kompetensi yang lebih besar dalam mengatur kegiatan operasi pada pasar global dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kemampuan tersebut (Westhead dkk., 2001). Mereka yang mempunyai pengalaman internasional lebih memiliki kompetensi dalam menghadapi masalah bisnis internasional, juga lebih mampu membaca peluang-peluang bisnis inernasional (Reuber dan Fisher, 1997; Sambharya, (1996). UKM yang dijalankan oleh pemilik yang mempunyai pengalaman luas akan lebih sering mengadakan aktivitas bisnis yang lebih banyak bertaraf global, dengan kata lain, pengalaman pemilik/manajer UKM membuat pemilik UKM  menjadi lebih percaya diri dalam menjalankan bisnis.

Penelitian-penelitian tersebut di atas adalah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dan para pakar UKM di luar negeri. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sugiarto Ph (2009) dengan model diskusi atau sering disebut focus group discustion, ditemukan kiat sukses seorang pengusaha yaitu :

A. Jangan :

1. Jangan ragu-ragu setiap kali mengambil keputusan

2. Jangan silau atas kesuksesan masa lalu (masa lalu pasti berbeda dengan masa kini)

3. Jangan malu bertanya atau belajar dari orang lain

4. Jangan pernah menunda pekerjaan yang berhubungan dengan bisnis

5.  Jangan ingkar janji (ajining diri ono ing lati)

B. Berupayalah untuk :

1. Tidak sepi dari kreasi dan inovasi (berbuatlah sesuatu yang baru: temen,temu tekan)

2. Kembangkan jejaring dan selalu menekankan pada etika (bisnis)

3. Pisahkan kekayaan pribadi dengan kekayaan perusahaan sesuai visi perusahaan

4.  Kembangkan sedikit “personality” yang menyenangkan dan pandai membuat argumentasi   (edi peni adi luhung : roso, karso lan cipto)

5. Berserah diri pada Tuhan Allah(ojo dumeh)

4. Wirausaha yang tangguh dan Etis

Etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujud dalam sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik secara  pribadi maupun kelompok(Sonny Keraf, 1991, hal 20).Moralitas adalah sistem nilai yang dianut suatu kelompok orang/suku/bangsa untuk bisa membedakan yang baik dan benar dengan yang buruk. Sistim nilai bisa berasal dari para orang tua kita yang berupa petuah atau wejangan-wejangan yang disampaikan secara turun-temurun,  atau sebuah “pranata” yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Dari pengertian tersebut dapat dibedakan bahwa etika berkaitan dengan ilmu sedang moral berkaitan dengan norma/ajaran(Magnis dalam Sonny 1991).

Berbicara tentang etika bisnis sebetulnya tidak jauh berbeda dengan etika pada umumnya, hanya saja dalam etika bisnis lebih menekankan pada kegiatan bisnis atau masyarakat bisnis. Prinsip etika bisnis menurut Sonny (1991) dikelompokan ke dalam lima prinsip : pertama prinsip ekonomi, seperti telah dikatakan di depan  dalam prinsip ekonomi sekarang harus lebih menekankan pada pemanfaatan suberdaya alam yang tidak berlebihan/secukupnya sehingga tidak merusak alam atau lingkungan. Prinsip menggunakan sumberdaya secukupnya untuk menghasilkan keuntungan yang wajar sudah banyak ditinggalkan, mereka lebih senang mengejar keuntungan yang besar meski harus mengurbankan/merusak lingkungan, contoh membuang limbah cair seenaknya ke sungai tanpa merasa berdosa.

Ke dua prinsip kejujuran.Pada masa sekarang ini harga sebuah kejujuran sangat mahal apalagi kalau kejujuran itu menyangkut dunia bisnis dan politik. Kejujuran sebenarnya juga cermin dari kepercayaan, jarang dijumpai perusahaan yang berani jujur melaporkan keuangan perusahaan yang ada hubunganya dengan pajak, pada hal pajak adalah cermin perusahaan yang peduli pada kesejahteraan masyarakat/bersama.Ke tiga prinsip berbuat baik, kalau kita mau sadar sedikit saja bahwa bisnis akan berkembang kalau ada karyawan dan ada pembeli tanpa mereka bisnis akan mati.Kalau pengusaha sadar akan arti orang lain bagi masa depan perusahaan maka berbuat baik dalam arti positip adalah mesejahterakan orang lain melalui bisnis dan bersedia membagi keuntungan kepada orang lain tanpa embel-embel.

Ke empat prinsip keadilan, prinsip ini harus dimaknai dengan memperlakukan orang lain sesuai dengan hak nya. Hak orang lain untuk menikmati udara bersih yang disediakan oleh Allah sering diabaikan, mereka lupa bahwa udara ini diperuntukan semua makluk hidup di dunia tanpa pengecualian. Pencemaran oleh industri sudah mencapai 35 persen dari 301 juta ton gas CO2 (BPPT, 2009). Ke lima adalah hormat pada diri sendiri, ingat nasehat orang tua kita dulu kalau kamu tidak senang dimaki-maki orang ya jangan memaki-maki orang lain, elingo ajining diri ono ing lati, ajining rogo ono ing busono.

Berbekal semangat kerja yang tinggi, berbisnis secara etis, visi perusahaan yang jelas dan berpendidikan tinggi belum mencukupi untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses. Pada era globalisasi yang ditandai dengan berlakunya ACFTA sejak awal tahun ini menuntut seorang pengusah tidak hanya berani menanggung resiko tetapi harus tangguh menghadapi gempuran- gempuran yang bertubi-tubi dari para pesaing baik pesaing dalam negeri maupun pesaing dari luar negeri. Keberadaan pesaing harus kita sikapi dengan positif sebagai pemacu untuk melahirkan sesuatu yang baru agar perusahaan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang tidak pernah ada akhirnya. Inovasi atau kreaktivitas adalah tanda suatu kehidupan tanpa salah satu diantaranya adalah mati.

Pepatah Jawa mengatakan “Digdoyo tanpo aji”, pepatah ini mmberi nasehat kepada kita bawa kekuatan perusahaan bukan terletak pada dunia lain tetapi pada kesungguhan kita dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. Tuhan telah menganugerahi talenta yang cukup untuk menghadapi berbagai tantangan, Tuhan tidak pernah mencobahi umatnya serta tidak pernah memberi beban di luar kemampuan kita, Tuhan itu Maha Adil, Maha tau dan Maha Bijaksana, ingat:”semua itu akan indah kalau sudah saatnya”, maka sudah selayaknya dan sepantasnya kalau kita berani bersikap tidak akan menyerah : “sopo sing temen bakale nemu dalan padang kanggo mujudake angen-angene”

5. Daftar Bacaan

Burgess, TF; Gupta, J.N.D.; Tekin, M. 1998. ”Competitive priorities, process innovations and time-based competition in the manufacturing sectors of industrialising economies”. Benchmarking for Quality Management and Technology. Vol. 5 No.4, pp.304-316

Covin, Jeffrey G. 1991. “Entrepreneurial versus Conservative Firms: A Comparison of Strategies and Performance”, Journal of Management Studies, Vol. 26 : 439 – 462

Ciputra. “Entrepreneurship mengubah masa depan bangsa dan masa depan anda”, 2008. PT Gramedia Jakarta

Deliarnov “Perkembangan Pemikiran DeCarlo, J. F. dan Lyons, P. R. 1979. “A Comparison of Selected Personal Characteristics of minority and nonminority female entrepreneurs”, Journal of Small Business Management, 17, 4, 22 – 9.

DeCarlo, J. F. dan Lyons, P. R. 1979. “A Comparison of Selected Personal Characteristics of minority and    nonminority female entrepreneurs”, Journal of Small Business Management, 17, 4, 22 – 9.

Departemen Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil. 1994. Profil Usaha Kecil di Indonesia. Jakarta: Departemen Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil.

Ellis, P. 2000. “Social ties and foreign market entry”. Journal of International Business Studies 31(3):443-469.

Hunt, J.B. dan Wallace, J. 1997. “A competency based approach to assessing managerial    performance in   Australian context”, Asia Pacific Journal of Human Resources, 35 (2), hal. 52-56

Huck, J.F., dan T. McEwen (1991). “Competencies need for Small Business Success: Perceptions of Jamaican Entrepreneurs”, Journal of Small Business Management, October, hal. 90 – 93.

Karagozoglu, N., dan Lindell, M. 1998. “Internationalization of small and medium-sized technology-based firms: an exploratory study”. Journal of Small Business Management 36(1): 44-59.

Lumpkin, G.T; Wales, William J; Ensley, Michael D. 2006. “Entrepreneurial orientation effects on new venture  performance: the moderating role of venture age”. Academy of Management Best Conference Paper 2006.

Maritz, Alex.2006. “Entrepreneurial Services Marketing Initiatives Facilitating Small Business Growth”,  Journal of Small Business & Entrepreneurship, Vol. 21 Issue 4.

Oviatt, B.M, dan McDougall, P.P. 1994. “Toward a theory of international new ventures”. Journal of International Business Studies 25(1):45-64.

Reuber, A.R. dan Fischer, E. 1997. “The influence of the management team’s international experience on the internationalization behavior of SME’s”. Journal of International Business Studies 28(4): 807-825.

Sonny Keraf.A. “Etika Bisnis, Membangun citra bisnis sebagai profesi luhur” 1991. Kanisius Yogyakarta

Soesilo 2002 “Piwulang dan Ungkapan Budaya Jawa, Pendidikan budi pekerti membentuk manusia berhati mulia” Yayasan Yusula Jakarta.

Susanto,2009 “Leadpreneurship, Pendekatan strategik manajemen dalam kewirausahaan” Penerbit Erlangga. Jakarta

Sugiarto Ph.J.2009 “Peran manajemen bagi masa depan UKMK” Peper disampaikan dalam diskusi panel di Plaza hotel Semarang.

Sugiarto Ph, J, 2010 “Manajemen Pemasok bagi ritel” Peper untuk pelatihan manajemen ritel di Plaza hotel

Sugiarto Ph,J, 2010 “Kewirausahaan Sosial sebagai alternatif pemecahan masalah kemiskinan” Kertas kerja disampaikan dalam diskusi panel dengan dinas Perdagangan di Plaza hotel Semarang.

Westhead, P., Wright, M. dan Ucbasaran, D. 2001. “The internationalization of new and small firms: a resource-based view”. Journal of Business Venturing 16(4): 333-358.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s