Kewirausahaan yang Bermoral

J. Sugiarto Ph.

1.  Pengantar

Kitab suci agama Katolik menjelaskan bagaimana dunia ini diciptakan oleh Tuhan(Kitab Kejadian 1: 1-29, 2: 1-7). Dunia diciptakan dengan segala kelimpahanya sehingga setiap manusia yang hidup di dunia tidak akan kelaparan karena kekurangan makan. Setiap kali aku melihat ke dinding pada malam atau sore hari selalu kulihat cicak yang merambat di dinding untuk mecari makan (nyamuk), nyamuk adalah binatang yang selalu terbang kesana kemari dan baru istirahat kalau lelah terbang, sementara sang cicak tidak dapat terbang, ia harus sabar,  trampil dan tepat waktu untuk bisa menerkam (nyaplok) nyamuk tersebut. Kalau hal itu kita pikir-pikir kelihatanya aneh tapi nyata : cicak yang tidak bisa terbang makananya nyamuk yang terbang dan suka bersembunyi di kegelapan, lebih heran lagi belum ditemukan cicak mati kelaparan. Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan segala kelebihanya masih ada berita ada orang mati kelaparan. Aneh bukan?

Pada zaman dahulu(purba) kebanyakan orang tidak memikirkan bagaimana memperbaiki kehidupan ini, mereka yakin bahwa kehidupan ini sudah ada yang mengatur yaitu Yang Maha Kuasa (Allah) atau  para Dewa. Pada kira-kira abat ke empat SM munculah para filsuf antara lain Aristoteles dengan  teori alamnya yang menyatakan bahwa planet dan benda-benda angkasa berputar mengelilingi bumi. Ptolomeus(Zane Pilzer, 2006)  merubah pandangan  lama yang menyatakan bahwa bumi dan bukan matahari merupakan pusat tata surya (pandangan yang salah tetapi sempat dipercaya selama 18 abat). Muncul filsuf Copernicus dan Galileo yang menyempurnakan pandangan sebelumnya bahwa semua benda di angkasa mengelilingi bumi.

Prinsip ekonomi lama mengatakan bahwa “ Untuk menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya diperlukan pengurbanan sekecil-kecilnya” Atas dasar prinsip ini banyak  orang mulai bekerja keras untuk dirinya sendiri (hakekat manusia serakah menurut Adam Smith dalam Deliarnov, 2003)dan keluarganya, mereka lupa bahwa kehidupan manusia tidak  bisa lepas dari sumbangan dari orang lain meskipun nilai ekonomisnya kecil, penafsiran prinsip ekonomi lama yang sempit memunculkan “penindasan” atau perbudakan. Definisi ilmu ekonomi yang menekankan pada “kelangkaan sumberdaya alam/scarcity”(Harold dan C.Morse, 1963) telah melahirkan keserakahan demi kepentingan individu atau kelompok yang dilandasi oleh perasaan ketakutan atau kekhawatiran melihat masa depan yang penuh dengan keterbatasan sumberdaya alam.

The Ultimate Resource karya Julian Simon (1981) menjelaskan tentang karunia Allah yang unik yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia bahwa manusia jangan hanya menggunakan sumberdaya alam yang ada tetapi dikaruniai pikiran/akal-budi untuk  menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama makluk hidup di dunia ini. Prinsip Alkimia Ekonomi :”Alam  tidak  menghasilkan apapun dalam keadaan sudah sempurna, manusialah yang harus menyempurnakan segalanya. Tindakan menjadikan segala sesuatu mencapai kesempurnaan itu disebut alkimia (Deliarnov, 2003, hal 74). Apabila seseorang itu bekerja dilandasi iman bahwa Tuhan Yang Maha Murah tidak akan menciptakan dunia ini dengan keterbatasan dan kelangkaan. Tuhan ingin manusia menjadi kaya melalaui kerja yang benar yang dilandasi iman dan kreaktivitas/inovasi, dan dengan kekayaan itu diharapkan bisa mensejahterakan orang lain.

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kekayaan yang terkandung di alam  ini sungguh tak terbatas jumlah dan jenisnya. Manusia telah dianugerahi talenta (kreaktif dan  inovatif) untuk menggali sumberdaya yang ada untuk mesejahterakan  makluk hidup yang ada di dunia ini (pepadaning aurip).

 

2. Kewiraswataan

Kewiraswastaan adalah semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang  dalam menangani usaha dan/ kegiatan yang mengarah pada upaya mencari,menciptakan dan menerapkan cara kerja, tehnologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih besar (Inpres No 4 tahun 1995). Wiraswastawan adalah seorang yang peka terhadap peluang pasar dan mampu memanfatkan peluang tersebut dengan baik (Meritz, 2005). Menurut Bolton dan Thomson dalam Meritz (2005) wiraswastawan adalah seseorang yang terbiasa dengan menciptakan sesuatu dan/ inovatif untuk membangun sebuah nilai dari peluang yang ada. Lukas 23:43 Pada saat Jesus menderita di kayu salib masih sempat melihat peluang untuk menyelamatkan seorang begal yang disalib bersamaNya. Masih ada kesempatan dalam kesempitan, nah jangan pernah lena memanfaatkan peluang yang ada karena peluang itu tidak akan terulang dua kali

Teori yang sering diterapkan oleh peneliti kewiraswastaan adalah teori motivasi Mc Clelland (1987) yaitu need for achievement (kebutuhan untuk mencapai keberhasilan) adalah  kemauan seseorang untuk menyelesaikan masalah sendiri, menyiapkan target dan berusaha memenuhi target melalui usaha sendiri. Seorang wiraswasta harus memiliki semangat dan daya juang yang tinggi untuk mampu bersaing dengan yang lain melalui penciptaan, pengembangan dan pelayanan produk/jasa yang ditawarkan ke konsumen. Matius 25:14-30 Perumpamaan tentang talenta, ada yang diberi 5 talenta,ada yang diberi 2 talenta dan ada yang diberi satu talenta. Mereka yang mendapat 5 dan 2 talenta dapat mengembangkan  menjadi dua kali lipat, sedang yang mendapatkan satu talenta disimpan dan tidak dikembangkan karena merasa hanya diberi sedikit. Talenta berapapun yang dianugerahkan Allah pada kita harus kita kembangkan karena talenta itu diberikan pada kita sudah dengan pertimbangan yang sangat adil, rasional dan sesuai dengan kemampuan kita, mari kita mulai mengembangkan talenta kita masing-masing untuk mencapai keberhasilan.

Menurut Rotter (1966), lokus pengendalian dari seseorang dapat dilihat secara internal maupun eksternal. Pengendalian  internal adalah cara berfikir seseorang yang menekankan pada dukungan dan dorongan aktif dari dirinya sendiri, sementara pengendalian eksternal adalah cara berfikir seseorang yang mendasarkan pada takdir dan keberuntungan atau peluang. Beberapa penelitian telah menghubungkan suatu pengendalian internal atas kejadian dalam kehidupan seseorang pada tujuan untuk menggabungkan aktivitas kewiraswastaan  untuk mencapai tujuan perusahaan atau kesuksesan bisnis (Gartner, 1985; Perry, 1990). Hal senada juga disampaikan Markus 11:25 Jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu kesalahan orang lain agar Bapamu yang di surga mengampuni kesalahanmu, disinilah letak lokus pengendalian diri dilihat dari sisi internal.yang didasarkan kondisi eksternalnya

Motivasi seseorang tertarik  menjadi pengusaha karena dia ingin bebas, mandiri dan menjadi “Bos” bagi dirinya sendiri (Scarborough & Zimmerer, 2000). Kemandirian seseorang dapat diukur melalui bagaimana seseorang itu mampu berdiri sendiri dan tidak terlalu tergantung pada orang lain yang sering disebut sebagai ciri kewiraswastaan (De Carlo dan Lyons, 1979). Ciri-ciri seorang wiraswasta seperti halnya Pohon dan buahnya (Lukas 6: 43): ”Tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang  tidak baik dan tidak ada pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik”  Banyak pengusaha/wiraswastawan lupa bahwa “ajining diri iku dumunung ono ing lati” artinya harga diri seseorang itu terletak pada ucapanya, jangan pernah bersaksi bohong atau membohongi orang lain kalau saudara tidak ingin dibohongi.

Cameron (1986), memaparkan tahapan-tahapan yang harus dilalui suatu bisnis agar dapat sukses dalam jangka waktu 15 tahun pertama, yaitu (1) Existence, dua tahun pertama setelah bisnis tersebut berdiri; (2) Survival, untuk menunjukkan bahwa bisnis tersebut dapat eksis (2-5 tahun); The High Stage of Success (5-7 tahun), dimana pemilik akan dihadapkan pada dua pilihan, yaitu tetap menjalankan bisnisnya atau keluar dari persaingan; (4) Take Off, perusahaan perlu menambah tenaga manajemen profesional (7-12 tahun); dan Maturity (kurang lebih 15 tahun), dimana perusahaan melakukan diversifikasi pada usaha-usaha yang berhubungan (integrasi horizontal).Lukas 19: 10 “Barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia juga setia pada perkara yang besar” Jadi mari kita mulai sesuatu dari yang paling sederhana dengan penuh tanggung jawab agar Allah mempercayaimu untuk diberi yag lebih besar lagi: “Ojo kesusu lan grusa-grusu mundak ora ketemu opo ing mbok tuju”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s